Sabtu, 13 September 2014

Welcoming Week in University a.k.a OSPEK



Assalamu’alaykum warrahmatullah

Apa kabar bro-sist? Udah sebulan yaa kita gak ketemu di blog ini hehehe. Semoga kabar dari bro-sist sekalian sehat dan baik-baik aja yaa, aamiin.

Nah kali ini, Nabila mau menceritakan aktivitas-aktivitas luar biasa yang Nabila lalui sepekan ini. Yap, PPBN dan P2SPT atau lebih mudahnya bisa disebut OSPEK.

Senin, 8 September 2014
Pertemuan pertama dengan teman-teman Fakultas Hukum 2014. Banyak banget mahasiswa baru-nya, bre. Hadir dari berbagai daerah di nusantara. Kakak-kakak seniornya juga kece-kece gitu deh hahaha. Kita dibagi menjadi 10 kelompok. Nabila masuk PK 5 dengan Kakak PK-nya yang super-baiiik banget, Kak Dwi dan Kak Indri. Di pertemuan ini, kita diberi arahan dan informasi untuk kegiatan-kegiatan pekan ini. Apa aja yang harus dibawa, digunakan, dan dilakukan. Banyak deh, sempet ngerasa “waduh, berat banget yaa pekan ini L”. Tapi karena mau gak mau harus dijalani, yaa reset aja mindset-nya jadi “Pekan ini bakal unforgottable!”. Jadi semangat lagi deh hahahah. Oiya, di PK 5 ini perempuannya lebih sedikit dari laki-laki. Nabila juga kenalannya sama temen-temen perempuannya aja sih hahaha. Pertama kenal tuh sama Kartiwi, Salwa, Vio, Memey dan Ribka.

Selasa, 9 September 2014
Hari pertama PPBN alias ospek universitas, Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. Bangun pukul 3.30 WIB, berangkat pukul 05.00 WIB, nyampe rumah pukul 19.00 WIB, tidur pukul 21.00 WIB. Dengan berpakaian putih-hitam, persis seragam kasier, beratapkan tenda HITAM dan beralaskan lapangan rumput, kami harus berbagi oksigen dengan EMPAT RIBU LEBIH manusia. Blower yang tersebar di beberapa titik pun menjadi magnet tersendiri. Berdiri beberapa menit untuk upacara pembukaan, duduk berjam-jam untuk mendengarkan pemateri. Harus berperang melawan kantuk dan pegal yang hadir menambah kesan hari itu. Belum lagi tempat sholat yang disediakan tidak nyaman, tempat berwudhu yang juga apa adanya. Yasudahlah, lengkap. Penderitaan-penderitaan ini tentu membawa hikmah tersendiri, yakni BERSYUKUR SELAMA TIGA BULAN LEBIH SEBELUMNYA MENGANGGUR DI RUMAH YANG NYAMAN. Rindu kasur pun mulai dirasakan. Percayalah, BERDIAM DIRI DI RUMAH ADALAH NIKMAT.  Alhamdulillah, materi yang disampaikan cukup menyulut semangat nasionalisme. Acara ini pun dipandu oleh MC yang kocak dan sangat menghibur, yakni Pak Yanto, Kak Omes, Kak Syifa, dan Kak Igor. Nabila ngefans deh sama Kak Igor. Lucuuu banget, gemes banget liat gayanya. Sampe sekarang belum nemu nih akun twitternya L. Semoga sukses yaa, Kak!!! :D

Rabu, 10 September 2014
Hari kedua PPBN. Bangun pukul 04.30 WIB, berangkat pukul 05.00 WIB, nyampe rumah pukul 19.30 WIB, tidur pukul 21.00 WIB. Yaa, 11-12 lah dengan hari sebelumnya. Bedanya, kali ini sebagian besar kegiatan diadakan di luar tenda. Team Building. Oiya, Nabila termasuk Batalion Patimura Kompi 2. Seru banget games alias team buildingnya, walaupun panasnya puooool tenan. Aku rapopo. Oiya, di kegiatan PPBN ini, Batalion Patimura dipandu oleh beberapa Kakak-Kakak Batalion yang kece dan (paling) cakep di antara Kakak Batalion lainnya. Gak hafal semua namanya sih. Tapi coba di-list deh. Kakak paling favorite, Kakak Kece alias Kak Suci dari FKIP semester 3. Berani banget dan yang pastinya sih kece banget, unyu gitu deh hehe. Ada 2 dari Fakultas Hukum, Kak Bayu (sering dipanggil Kakak Judes) dan Kak Jenggot. Kak Bayu ini lucu, galak tapi suara sama ekspresinya gak pantes galak hahaha lucu kan? Nah, kalau Kak Jenggot, gak tau namanya siapa sih haha, baik banget kayanya. Modusin maba cantik FKIP di kompi 3 mulu. Pernah tiba-tiba nanya “Lu Nabila maba hukum, kan?” dan bikin Nabila berpikir “Waduh, salah apa yaa gue. Kena deh...”. Selanjutnya ada Kakak Taekwondo yang ikut UKM Taekwondo, maap kakak aku tak tau namamu hehe. Doi mirip sama Kakak dari FE yang ngomong “Percayain aja sama temen lu, ini teamwork” pas lagi games dan Nabila harus dipegang cowok. Terakhir, yang paling tinggi, pernah jadi cover boy majalah Aneka, mirip Oka Landak Gaul, gak tau dari fakultas mana, gak tau namanya siapa. Kece! Mehehehe :P Oiya, materi terakhir hari ini dari Bapak Abdul Basith tuh mantep banget. The Power of Dreams dan Affirmasi. Thank you pisan, Pak! ^^

Kamis, 11 September 2014
Hari terakhir PPBN. Spesial hari ini adalah ketemu Bapak Walikota Bogor 2014-2019, Bima Arya. Beliau membawakan materinya seru, bikin gak ngantuk dan segar. Bicaranya jelas dan terstruktur. Namanya juga pemimpin yaa... hehehe. Hari ini juga penampilan BEM, BLM, dan UKM yang ada di universitas. Beberapa ada yang menarik, tapi kayanya mau jadi “KUPU-KUPU” aja deh gak ikut-ikutan organisasi lagi. Target dulu dan sekarang berbeda, tjoy! :D Di PPBN ini, aku kenalan dan bahkan udah deket sama beberapa temen dari berbagai fakultas.  Pertama, Teh Yeni dari FMIPA jurusan Ilmu Komputer. Usianya udah 20 tahun, semangat belajar dan mencoba hal barunya itu loh, TJAKEP! Teh Yeni yang tinggal di Cigudeg ini mau ikut UKM Merpati Putih dan Palapa. Mantep euy, teh! Ckck. Kedua, ada Rien dari FKIP jurusan PBSIndonesia. Gadis Karawang ini emang minat banget jadi guru Bahasa Indonesia. Jago berpuitis ria, jago nulis. Nyambung banget kalau diajak ngobrol. Kita udah merencanakan tour keliling Bogor loh, Nabila jadi guide-nya hahaha dia percaya aja lagi wkwk. Dimulai dari menjelajah Kebun Raya Bogor pada Sabtu mendatang. Do’ain bisa lancar dan menyenangkan yaa tour kami hahaha aamiin. Ketiga, ada Putri atau bisa dipanggil Acin, wajah cina-jepang-tionghoa gitu deh. Seinget Nabila sih dia anak Sastra Indonesia dari FISIB. Baik banget, suka anime, suka korea jugaaa. Daebak pisanlah! Sebenernya masih banyak kenalan-kenalan lainnya, tapi yang cukup dan paling dekat yaa baru mereka. Semoga kita sukses dengan pilihan dan impian masing-masing yaa, kawan! :D

Jum’at, 12 September 2014
Hari pertama P2SPT alias ospek fakultas. Seru banget acaranya, karena emang kakak-kakak panitianya ramah banget. Banyak yang kece pula hahaha teteeeup. Disini aku ketemu lagi sama temen-temen dari PK 5, plus Shindy dan minus Salwa yang pindah ke PK lain. Kenalan sama yang laki-lakinya juga. Erwin, Adam, Alul, Zulfikar, Zee, dan Soekarno. Mereka baik-baik banget deh hehehe. Ada pengangkatan Jendral-Jendril a.k.a ketua angkatan. Jendral kami adalah OR, dan Jendril kami adalah Salwa. Semoga dapat menjalani amanah menjadi Jendral-Jendril yang bertanggung jawab yaa! :) Sayang, karena kondisi fisik Nabila yang makin drop (semalam demam, dan dipaksakan hadir di hari pertama P2SPT), Nabila harus pulang lebih dulu dan gak bisa ikut P2SPT hari terakhir. Oiya, di P2SPT ini banyak temen-temen yang ngefans sama juru potret, Kak Fahmi Sungkar, karena wajahnya (yang katanya) arab banget dan manis itu hahaha iyasih cakep. Tapi masih cakepan My Future Halalmates doooong hahaha. Kalau Nabila sih ngefansnya sama Kakak PK 5, Kak Indri yang ramah banget, Kak Dwi yang super-baiiik banget. Nabila juga ngefans sama Kak Esa, Koordinator Kakak PK, yang minjem nametag Nabila untuk ngambilin permennya hahaha. Kak Esa ini unyu banget, suka banget liat Kak Esa memperagakan gerakan di depan, suka banget cara bicara dan bahasa tubuhnya. Mirip oppa-oppa kece di Korea gitu deh. Dan ternyataaa, Kak Esa emang suka hal-hal yang bernuansa Korea. Aaaaaarggghhhh, daebak pisanlah! :D

Yaaap, begitulah Welcoming Week in University versi Nabila. Capek banget, seru banget, dan pengalaman yang UNFORGOTTABLE pisan. Sampe lupa kalau senin udah mulai kuliah, tapi belum ngisi SKS huhuhu. Do’ain yaa biar Nabila bahagia terus menjalani lika-liku kehidupan perkuliahan.  Segera tercapai semua target dan impian Nabila. Aaamiiin. Terima kasih udah mau baca report versi Nabila hehehe

Yel-Yel Utama P2SPT
Kami cama-cami (cama-cami), uuuuuu
Dengan suka hati (suka hati), uuuuuu
Siap menjalani (menjalani), uuuuuuu
P2 SPT
Kami semua gembiraaa

Salam Ditolak
Salam ditolak, emang gak enak
Salam ditolak, emang gak enak
Jangan tolak salamku
Akan ku ulang lagiii

Salam Diterima
Terima kasih kakak
Salamku diterima
Hatiku berbunga
Makasih kakaaak



Sunday, September 14th 2014
Dari yang sudah resmi menjadi Mahasiswi Fakultas Hukum,
Nabila

Selasa, 12 Agustus 2014

New Dreams



Impian boleh gugur
Namun asa tak boleh setitik pun pudar
Karena bersama impian yang gugur
Allah suburkan harapan baru
 
Keinginan hati untuk “cuti” setahun pun kandas karena restu orang tua yang tak kunjung didapat. Impian untuk menjadi seorang dokter pun lenyap tanpa sisa.
Ya, Ayah dan Abah (Kakek) menginginkan saya tetap kuliah tahun ini. Walaupun tidak di PTN, minimal harus tetap kuliah dan tidak boleh “nganggur” begitu saja. Penjelasan dan negosisasi sudah saya usahakan dengan maksimal. Melalui istikhoroh dan petunjuk Allah, saya sadar, bahwa saya tidak bisa terus-menerus memaksakan kehendak saya. Saya sudah mengecewakan Ayah dan Ibu berkali-kali, biarkanlah kali ini saya merelakan keinginan saya dan menurut dengan apa yang diinginkan oleh Ayah dan Ibu. Berbakti sebagai seorang anak memang berat, tapi pelan-pelan saya mulai belajar menerima bahwa hidup ini tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. 

Alhamdulillah, setelah melalui test gelombang terakhir, nama saya akhirnya tercantum sebagai mahasiswi. Kini, saya resmi menjadi calon mahasiswi Fakultas Hukum – Universitas Pakuan, Bogor.
Walau tak pernah terpikir sedikit pun untuk melanjutkan studi di UNPAK, saya sangat bersyukur dan bahagia menjadi bagian darinya. Lokasinya yang masih bisa dikejar pulang-pergi, lingkungan kampus yang cukup asri dan dekat dengan beberapa objek kuliner hahaha. Semoga selanjutnya akan berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Kenapa harus UNPAK, bil? 

Karena Ayah dan Ibu. UNPAK juga gak kalah keren kok dibanding universitas lain. Penyaringan mahasiswanya juga lumayan ketat.

Kenapa harus FH, bil?

Emang putar arah jauh banget sih dari kedokteran, tapi terdengar deket kok antara FK dan FH hehe sama-sama keren insyaaAllah tergantung individu masing-masing.

Mau jadi pengacara, bil?

No way. Saya ingin jadi full-time wife and mother. Tapi yaa kalau dikasih kesempatan untuk lanjut master degree sih saya pengennya jadi notaris aja. 

Kuliah atau nikah?

Tergantung situasi dan kondisi sih. Saya ingin fokus kuliah dulu. Tapi gak menutup kemungkinan kalau saya akan menikah dan sebelum jadi sarjana. Allah knows best.




Yap, saya harap itu semua cukup untuk menjawab pertanyaan teman-teman mengenai langkah baru yang saya ambil dan impian-impian baru yang tumbuh di langit asa saya.
I wish we can be the best of ourselves wherever we were in, aamiin.

Dengan semanagat baru,
@nabilawidodo

Senin, 30 Juni 2014

Failure Leads Me Back To The Right Way


Beberapa waktu yang lalu, saya harus menelan getirnya kegagalan di jalur SNMPTN. Saya hanya mendapat kesempatan sekali seumur hidup untuk berhasil atau gagal melalui jalur ini, namun takdir mengharuskan saya gagal saat itu. Saya tidak terlahir sebagai seseorang yang ambisius dan berorientasi pada bidang akademik. Hal ini sangat membantu  ketika saya mengalami kegagalan seperti ini. Tapi, kegagalan menjadi luka bukan karena seseorang yang mengalaminya adalah ambisius. Bukan. Kegagalan akan menjadi luka yang sulit diobati ketika orang-orang yang disayangi pun harus merasakan kegagalan. Tak tergambarkan hancurnya hati saya melihat Ayah dan Ibu berusaha menghibur dan menyemangati saya, sedang kekecewaan tak dapat disembunyikan dari wajah teduh keduanya.

Beruntung, saya bukan tipe orang yang memikirkan kegagalan hingga berlarut-larut. Bagi saya, kegagalan hanya akan tetap menjadi kegagalan jika kita tak berusaha mengubahnya menjadi sebuah kesuksesan. Saya memberi waktu sehari kepada diri saya untuk menerima kegagalan dan belajar mengikhlaskannya.

Keesokan harinya, saya mulai merancang strategi untuk berhasil di jalur-jalur akhir menjadi mahasiswi PTN tahun ini. Saya mengejar ketertinggalan di lebih dari satu tempat bimbingan belajar, mengikuti beberapa program intensif. Hampir setiap hari, sejak teriknya mentari  hingga gelap dan dinginnya malam menyapa, saya memforsir tubuh dan pikiran. Setiap kali saya mulai merasa lelah, saya mengingat kembali ekspresi Ayah dan Ibu beberapa waktu lalu sehingga semangat belajar saya pun melesat luar biasa. Beberapa waktu, saya menghilangkan jenuh dengan berdiskusi bersama kakak-kakak kelas saya tentang bagaimana perjuangan mereka dulu ketika berada di posisi saya. Saya pun menyadari bahwa ikhtiar saya masih belum maksimal seperti mereka.

Selama proses itulah saya menemukan begitu banyak ibroh dari kegagalan saya. Melalui kegagalan, Allah memberikan saya banyak kesempatan yang mungkin akan terlewatkan begitu saja ketika saya secara cuma-cuma diberikan keberhasilan. Melalui kegagalan, saya bertemu dengan banyak sahabat-sahabat baru, guru-guru yang sangat menginspirasi dan kesempatan merasakan semangat belajar yang luar biasa. Saya pun akhirnya mensyukuri kegagalan saya. Saya tumbuh menjadi seorang manusia yang menikmati kegagalannya, menikmati skenario Allah untuk perjalanan hidup saya.

Hari ujian (SBMPTN) yang ditunggu akhirnya tiba. Saya sangat yakin bisa lolos seleksi ini, minimal di pilihan terakhir. Nervous. Allah kembali menguji pada titik terlemah saya. "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2). Ketika saya mulai mengisi identitas di lembar jawaban, alarm dari handphone saya berbunyi di dalam tas yang sudah saya simpan di depan ruang ujian. Saya segera mematikannya. Beberapa detik setelah saya duduk kembali, salah satu pengawas menghampiri saya. Saya diminta untuk menandatangani berita acara. Alhasil, selama ujian saya tidak bisa fokus dan kehilangan konsentrasi. Seingat saya, kalau nama sudah tertera di berita acara, maka sejurus kemudian habis sudah harapan untuk lolos ujian. Gagal sebelum berperang karena sebuah halangan yang seharusnya tidak menjadi halangan. Terbayang kembali wajah kecewa Ayah dan Ibu. Terbayang pula aktivitas ketika harus ‘menganggur’ selama setahun kemudian beserta komentar keluarga dan sahabat mengenai kegagalan saya yang terulang kembali. Saya kalut dan tak sanggup mengatur emosi. Mata perih dan akhirnya menghasilkan beberapa bulir air mata kekecewaan. Pikiran negatif pun terus menghantui saya selama perjalanan pulang. Setibanya di rumah, saya langsung meminta maaf kepada Ayah dan Ibu karena harus mengecewakannya lagi. Saya mengurung diri di kamar, berdialog pada diri,  menenangkan pikiran agar bisa bangkit secepatnya. Sempat terlontar sebuah pertanyaan durhaka dari ucapan saya, “Yaa Allah, ujian apa lagi ini? Apa maksud semua ini, Yaa Rabb?”. Seusai sholat dzuhur, saya memilih untuk tidur sebagai penghilang stress.

Saya terbangun kembali dan segera melaksanakan sholat ashar. Ketika berwudhu, airnya seperti menyentuh hingga ke relung jiwa. Menyadari betapa durhaka saya sebagai hamba. Saya pun kembali larut dalam tangisan penyesalan. Takbiratul ihram, menggetarkan hati saya. Saya sadar bahwa kuasa Allah sangatlah besar. Jika Allah berkehendak, bukan perkara sulit untuk meloloskan saya (bahkan di pilihan pertama) dengan nama masih tertera di lembar berita acara. Tiba di kalimat wamahyaya wammamati lillahi rabbil’alamin, tersentak lahir dan batin saya. Saya kalut, bahkan hingga durhaka kepada Allah hanya karena kegagalan mencapai hal yang fana. Lupa diri hingga tak terasa menjadi ambisius pada perkara duniawi. Sungguh sangat merugi, jika Allah tak memperkenankan ampunanNya untuk saya. Dalam sujud paling panjang, saya memohon ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, saya mengakui kebesaran Allah dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikanNya, termasuk nikmat kegagalan yang bertubi-tubi ini.

Saya masih memiliki kesempatan terakhir menjadi mahasiswi PTN di jalur mandiri. Seleksi mandiri diadakan beberapa hari setelah seleksi bersama. Selama beberapa hari itu, saya belajar dengan sistem yang lebih santai. Bahkan sebagian besar waktu saya habis untuk bermain games di laptop, mengelola bisnis-bisnis yang sempat terlantar dan lebih banyak merayu keajaiban pada Tuhan penguasa alam semesta beserta seluruh isinya. Hingga harinya pun tiba. Ayah berpesan agar saya tetap tenang apapun yang terjadi. Alhamdulillah, seleksi berjalan lancar. Berjuta harapan masih tergantung tinggi di langit. Senyum pun tak pernah lepas menghiasi hari. Setelah seleksi mandiri, ada sedikit perasaan lapang yang sulit dijelaskan. Bebas untuk sementara waktu. Saya pun bisa total menyiapkan diri untuk optimal beribadah dan beraktivitas di bulan Ramadan.

Pada akhirnya bersama tulisan ini, saya memutuskan untuk posponed dalam bidang akademik selama setahun. Masih banyak hal yang belum saya tunaikan sehingga Allah mungkin belum memberi saya jalan untuk menjadi mahasiswi PTN tahun ini. Setahun ini saya akan fokus memperbaiki diri, mendekatkan diri pada Rabbul Izzati, birrul walidain, mempelajari materi pelajaran dari dasarnya, mengembangkan bisnis-bisnis saya yang mulai tumbuh dan yang paling utama, saya ingin fokus mewujudkan cita-cita saya sejak kecil, yaitu menjadi hafidzoh(*). Saya sangat mensyukuri kegagalan saya yang membukakan mata hati dan pikiran saya yang nyaris digelapkan oleh perkara dunia. Sungguh saya sangat bersyukur.


Inilah kisah dari rantaian kegagalan yang Allah karuniakan kepada saya untuk menjadikan saya pribadi yang lebih baik, muslimah yang lebih patuh pada perintahNya dan hamba yang mensyukuri nikmatNya. Sungguh, saya menulis tulisan ini hanya untuk berbagi bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Allah menciptakan segala sesuatu dengan pasangannya, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hari ini mungkin gagal, esok boleh jadi sukses luar biasa. Semoga Allah senantiasa menjaga niat saya dalam menulis, melindungi saya dari penyakit riya dan sombong yang terkandung dari tulisan ini hingga tulisan ini berada di hadapan pembaca sekalian.

Mohon maaf untuk kalimat yang kurang berkenan. Mohon do’anya agar rencana-rencana saya akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sebuah kesuksesan yang hakiki. Mohon do’anya pula agar saya diberi keikhlasan dan kelapangan hati dalam menerima apapun yang menjadi keputusan Allah sebagai takdir saya. Terima kasih telah membaca tulisan ini hingga akhir. Berharap Allah memberikan kelancaran pada setiap urusan kita, aamiin.


 “You can't have any successes unless you can accept failure.”

 -George Cukor


2 Ramadan 1435H
with love, @nabilawidodo

 (*) The further story will be written soon.

Senin, 26 Mei 2014

SNMPTN

Esok 'kan jadi siang
Lusa 'kan jadi malam
Esok ataupun lusa
Takdir kan terjadi jua

Apapun kabarnya
Jangan kau bangga
Semua karena kuasa-Nya
Jangan kau jumawa
Semua 'kan kembali pada-Nya

Tak perlu sedih
Tak perlu menangis
Cita tak pernah habis
Tak perlu disesali
Dunia tak kau bawa mati

Syukuri
Esok masih ada mentari
Lusa masih ada pelangi
Dan kau tak pernah sendiri





Bogor, 26 May 2014
Nabila

Rabu, 19 Februari 2014

29Feb2014

Maaf kali ini tak ada puisi
Atau sekedar kalimat puitis

Karena setiap kata yang tertulis untukmu
Akan membuat pecah tangisku

Aku tak ingin lagi menangis tersedu untukmu

Karena air mata justru membebankan dirimu
Mungkin hanya do'a yg dapat menghapus rindu

Tak 'kan pernah bosan kuselipkan namamu
Dalam setiap mohonku

Rabb kita pasti memahami pintaku
Malaikat juga tahu aku masih merindukanmu

Akan selalu ada kerinduan yg hadir dalam setiap ingatanku.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak, aamiin.

Dari yang masih merindu Mbah Kung&Mbah Uti,
Kakak Bila.

Kamis, 02 Januari 2014

Perbedaan Sindrom Down, Autis dan Idiot

   Beberapa pekan yang lalu, ketika saya menemani Sabil terapi, ada seorang Ibu yang bertanya "Adiknya sakit apa, mba?". Tanpa rasa malu ataupun minder, saya tersenyum dan menjawab "Down Syndrome, bu". Ibu itu (mungkin) masih asing dengan Sindrom Down dan mencoba menarik kesimpulan sendiri, "Oh, Autis yaa". Sepersekian detik kemudian, secara refleks saya menyangkal kesimpulan beliau, "Down Syndrome berbeda dengan Autis, bu". Kemudian, Ibu itu bertanya lagi, "Apa perbedaannya?". Saya hanya terdiam, mencari jawaban yang pas. Dokter Marina hanya menyampaikan bahwa Down Syndrome berbeda dengan Autis, tapi belum sempat menjelaskan perbedaannya. Beruntung, sebelum saya menjawab, anak ibu tersebut dipanggil masuk ke ruang terapi. Alhamdulillah.

   Setelah kejadian tersebut, saya langsung browsing mengenai perbedaan Down Syndrome, Autis dan Idiot. Banyak sekali artikel yang menjelaskannya. Kini, saya mencoba merangkumnya kembali menjadi sebuah tulisan. Semoga bermanfaat.

   Pada tulisan sebelumnya, saya sudah merangkum beberapa hal mengenai Down Syndrome. Boleh ditengok tulisannya, hehehehehe

   Secara lebih singkat, Down Syndrome adalah seseorang yang lahir dengan kelainan kromosom karena faktor genetika. Ciri-ciri fisiknya pun sangat khas dan terlihat jelas. Mereka memiliki bentuk wajah yang sama. Mata yang sipit, hidung yang mungil, mulut yang kecil dan lidah yang sering menjulur keluar. Biasanya diikuti oleh kelemahan fungsi, kelainan, atau kerusakan organ-organ tubuh lainnya. Kasus yang sering ditemui adalah kelainan jantung.

   Berbeda dengan Autis, yang terlihat seperti anak-anak normal. Sebagian dari mereka ada yang terlahir dengan kemampuan berpikir yang terlalu jenius, sebagian lagi dengan kemampuan berpikir sangat lambat. Ada beberapa jenis Autis, diantaranya adalah hipoaktif atau mereka memiliki "dunia" mereka sendiri. Lebih senang menyendiri dan tidak menyukai keramaian. Atau ada pula yang hiperaktif, tidak bisa diam dan terus bergerak. Namun seiring bertambahnya usia, perilaku-perilaku tersebut dapat berkurang. Telah banyak metode terapi yang bertujuan untuk menyembuhkan Autis. Diantaranya adalah terapi dengan lumba-lumba. Hal ini membuktikan bahwa Autis dapat disembuhkan.

  Adapun Idiot adalah kata yang digunakan untuk orang kekurangan profesional dan tidak berpendidikan. Dulu, ilmu psikologi dan kedokteran menggunakan kata tersebut untuk anak dengan IQ sekitar 20. Namun saat ini, kata Idiot sudah tidak digunakan lagi, baik dalam dunia psikologi ataupun kedokteran.

   Begitulah ringkasan yang dapat saya tulis. Semoga dapat dipahami, yaa. hehehe.

   Mungkin beberapa pembaca bertanya, "Ngapain sih nulis tentang Down Syndrome mulu, bil?". Mungkin juga ada yang berkomentar, "Lebay banget sih, bil. Selain lu, masih banyak yang punya ade DS, tapi gak lebay tuh.".

   InsyaAllah tujuan saya menulis beberapa tulisan mengenai Down Syndrome adalah agar lebih banyak teman-teman pembaca yang dapat melihat lebih luas kebesaran Allah (SWT) yang Maha Agung. Tak sanggup akal pikiran saya membayangkan Maha Kuasa-NYA yang mampu menciptakan makhluk dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing, beserta dengan tujuan penciptaannya.

   Sejak saya mulai mencari tahu sedikit-banyak mengenai DS atau Autis, saya semakin disadarkan Allah untuk senantiasa bersyukur. Bersyukur dengan apapun yang Allah titipkan pada diri saya. Bahkan bersyukur dengan hal-hal kecil yang nyaris lupa saya syukuri sebelumnya, seperti Alhamdulillah jari tangan saya lengkap. Ada ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Dan nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Subhanallah. Allahuakbar! :')

   "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
- (Q.S. Ar-rahman: 13) -

Minggu, 29 Desember 2013

Apa sih "Down Syndrome" itu?

   Melanjutkan tulisan "Idiot Bukan Bahan Candaan", beberapa pembaca mungkin bertanya-tanya mengenai Sindrom Down yang dialami adik bungsu saya. Melalui tulisan ini, saya berusaha menjawab pertanyaan pembaca.

   Down Syndrome merupakan kelainan genetik pada kromosom. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Sindrom ini pertama kali dikenal oleh dr. John Longdon Down pada 1886.

   Alinea sebelumnya adalah pengertian Down Syndrome secara textbook. Untuk lebih jelas mengenai "apa sih Down Syndrome itu?", inilah beberapa ciri khusus mereka;

   Mata sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan, disebut dengan epicental folds. Hidung yang datar menyerupai mongoloid, disebut dengan mongolisme. Mulut mengecil dan lidah yang sering menjulur keluar, disebut macroglossia. Bentuk kepala relatif lebih kecil dengan bagian anteroposterior kepala mendatar, disebut dengan microcephaly. Lapisan kulit yang nampak keriput, disebut dengan dermatologlyphics. Ukuran tangan relatif lebih pendek dengan ruas jari yang lebih buntet, serta jarak yang melebar antar ibu jari dan telunjuk. Mereka pun memiliki keunikan yang paling khas, yaitu Siemens Line atau keunikan garis tangan. Biasanya diikuti dengan kelainan organ-organ tubuh lainnya, seperti -yang sering terjadi- kelainan jantung.  Selain secara fisik, ciri-cirinya juga dapat terlihat secara mental, yaitu kesulitan berkomunikasi.

   Subhanallah. Mereka memiliki banyak keistimewaan, bukan?

   Apakah mereka bisa sembuh?

    Sayangnya, hingga kini, sindrom ini belum bisa disembuhkan secara total. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebutlah mereka harus berjuang menjalani hidup senormal mungkin. Satu-satunya jalan adalah dengan melatih mereka hidup mandiri. Memang tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Caranya? Bisa mengikuti serangakaian terapi rutin di poli tumbuh kembang anak. Alhamdulillah, kini sudah mudah ditemui di beberapa rumah sakit.

   Kalau tidak bisa diobati, bisakah sindrom ini dicegah?

   Tidak, sindrom ini tidak dapat dicegah karena DS merupakan kelainan kromosom yang penyebabnya belum diketahui pasti hingga saat ini. Tapi, sindrom ini dapat diketahui sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui pengambilan air ketuban (amniocentosis) atau analisis kromosom melalui pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada usia kehamilan 10-12 minggu. Terlebih wanita yang hamil pada usia > 40 tahun, sebaiknya melakukan pemeriksaan ini. Mungkin lebih baik jika sebelum menikah melakukan pemeriksaan kesehatan. Perlu diingat, sebesar apapun usaha untuk mencegah sindrom ini atau kelainan genetik lainnya, hanya Allah yang dapat menentukan.

   Jika Allah menitipkan anak, adik, atau kerabat dengan Sindrom Down, jangan malu, apalagi marah. Itu adalah salah satu tanda kasih sayang Allah pada kita. Allah mempercayai kita menjadi orang tua, kakak, atau kerabat yang istimewa.

  Teruntuk pembaca yang memiliki kekerabatan dengan anak-anak DS, satu pesan saya, ingat,

"La tahzan, innallaha maa anna. Jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita."
(Q.S. At-taubah: 40)