Senin, 30 Juni 2014

Failure Leads Me Back To The Right Way


Beberapa waktu yang lalu, saya harus menelan getirnya kegagalan di jalur SNMPTN. Saya hanya mendapat kesempatan sekali seumur hidup untuk berhasil atau gagal melalui jalur ini, namun takdir mengharuskan saya gagal saat itu. Saya tidak terlahir sebagai seseorang yang ambisius dan berorientasi pada bidang akademik. Hal ini sangat membantu  ketika saya mengalami kegagalan seperti ini. Tapi, kegagalan menjadi luka bukan karena seseorang yang mengalaminya adalah ambisius. Bukan. Kegagalan akan menjadi luka yang sulit diobati ketika orang-orang yang disayangi pun harus merasakan kegagalan. Tak tergambarkan hancurnya hati saya melihat Ayah dan Ibu berusaha menghibur dan menyemangati saya, sedang kekecewaan tak dapat disembunyikan dari wajah teduh keduanya.

Beruntung, saya bukan tipe orang yang memikirkan kegagalan hingga berlarut-larut. Bagi saya, kegagalan hanya akan tetap menjadi kegagalan jika kita tak berusaha mengubahnya menjadi sebuah kesuksesan. Saya memberi waktu sehari kepada diri saya untuk menerima kegagalan dan belajar mengikhlaskannya.

Keesokan harinya, saya mulai merancang strategi untuk berhasil di jalur-jalur akhir menjadi mahasiswi PTN tahun ini. Saya mengejar ketertinggalan di lebih dari satu tempat bimbingan belajar, mengikuti beberapa program intensif. Hampir setiap hari, sejak teriknya mentari  hingga gelap dan dinginnya malam menyapa, saya memforsir tubuh dan pikiran. Setiap kali saya mulai merasa lelah, saya mengingat kembali ekspresi Ayah dan Ibu beberapa waktu lalu sehingga semangat belajar saya pun melesat luar biasa. Beberapa waktu, saya menghilangkan jenuh dengan berdiskusi bersama kakak-kakak kelas saya tentang bagaimana perjuangan mereka dulu ketika berada di posisi saya. Saya pun menyadari bahwa ikhtiar saya masih belum maksimal seperti mereka.

Selama proses itulah saya menemukan begitu banyak ibroh dari kegagalan saya. Melalui kegagalan, Allah memberikan saya banyak kesempatan yang mungkin akan terlewatkan begitu saja ketika saya secara cuma-cuma diberikan keberhasilan. Melalui kegagalan, saya bertemu dengan banyak sahabat-sahabat baru, guru-guru yang sangat menginspirasi dan kesempatan merasakan semangat belajar yang luar biasa. Saya pun akhirnya mensyukuri kegagalan saya. Saya tumbuh menjadi seorang manusia yang menikmati kegagalannya, menikmati skenario Allah untuk perjalanan hidup saya.

Hari ujian (SBMPTN) yang ditunggu akhirnya tiba. Saya sangat yakin bisa lolos seleksi ini, minimal di pilihan terakhir. Nervous. Allah kembali menguji pada titik terlemah saya. "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2). Ketika saya mulai mengisi identitas di lembar jawaban, alarm dari handphone saya berbunyi di dalam tas yang sudah saya simpan di depan ruang ujian. Saya segera mematikannya. Beberapa detik setelah saya duduk kembali, salah satu pengawas menghampiri saya. Saya diminta untuk menandatangani berita acara. Alhasil, selama ujian saya tidak bisa fokus dan kehilangan konsentrasi. Seingat saya, kalau nama sudah tertera di berita acara, maka sejurus kemudian habis sudah harapan untuk lolos ujian. Gagal sebelum berperang karena sebuah halangan yang seharusnya tidak menjadi halangan. Terbayang kembali wajah kecewa Ayah dan Ibu. Terbayang pula aktivitas ketika harus ‘menganggur’ selama setahun kemudian beserta komentar keluarga dan sahabat mengenai kegagalan saya yang terulang kembali. Saya kalut dan tak sanggup mengatur emosi. Mata perih dan akhirnya menghasilkan beberapa bulir air mata kekecewaan. Pikiran negatif pun terus menghantui saya selama perjalanan pulang. Setibanya di rumah, saya langsung meminta maaf kepada Ayah dan Ibu karena harus mengecewakannya lagi. Saya mengurung diri di kamar, berdialog pada diri,  menenangkan pikiran agar bisa bangkit secepatnya. Sempat terlontar sebuah pertanyaan durhaka dari ucapan saya, “Yaa Allah, ujian apa lagi ini? Apa maksud semua ini, Yaa Rabb?”. Seusai sholat dzuhur, saya memilih untuk tidur sebagai penghilang stress.

Saya terbangun kembali dan segera melaksanakan sholat ashar. Ketika berwudhu, airnya seperti menyentuh hingga ke relung jiwa. Menyadari betapa durhaka saya sebagai hamba. Saya pun kembali larut dalam tangisan penyesalan. Takbiratul ihram, menggetarkan hati saya. Saya sadar bahwa kuasa Allah sangatlah besar. Jika Allah berkehendak, bukan perkara sulit untuk meloloskan saya (bahkan di pilihan pertama) dengan nama masih tertera di lembar berita acara. Tiba di kalimat wamahyaya wammamati lillahi rabbil’alamin, tersentak lahir dan batin saya. Saya kalut, bahkan hingga durhaka kepada Allah hanya karena kegagalan mencapai hal yang fana. Lupa diri hingga tak terasa menjadi ambisius pada perkara duniawi. Sungguh sangat merugi, jika Allah tak memperkenankan ampunanNya untuk saya. Dalam sujud paling panjang, saya memohon ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, saya mengakui kebesaran Allah dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikanNya, termasuk nikmat kegagalan yang bertubi-tubi ini.

Saya masih memiliki kesempatan terakhir menjadi mahasiswi PTN di jalur mandiri. Seleksi mandiri diadakan beberapa hari setelah seleksi bersama. Selama beberapa hari itu, saya belajar dengan sistem yang lebih santai. Bahkan sebagian besar waktu saya habis untuk bermain games di laptop, mengelola bisnis-bisnis yang sempat terlantar dan lebih banyak merayu keajaiban pada Tuhan penguasa alam semesta beserta seluruh isinya. Hingga harinya pun tiba. Ayah berpesan agar saya tetap tenang apapun yang terjadi. Alhamdulillah, seleksi berjalan lancar. Berjuta harapan masih tergantung tinggi di langit. Senyum pun tak pernah lepas menghiasi hari. Setelah seleksi mandiri, ada sedikit perasaan lapang yang sulit dijelaskan. Bebas untuk sementara waktu. Saya pun bisa total menyiapkan diri untuk optimal beribadah dan beraktivitas di bulan Ramadan.

Pada akhirnya bersama tulisan ini, saya memutuskan untuk posponed dalam bidang akademik selama setahun. Masih banyak hal yang belum saya tunaikan sehingga Allah mungkin belum memberi saya jalan untuk menjadi mahasiswi PTN tahun ini. Setahun ini saya akan fokus memperbaiki diri, mendekatkan diri pada Rabbul Izzati, birrul walidain, mempelajari materi pelajaran dari dasarnya, mengembangkan bisnis-bisnis saya yang mulai tumbuh dan yang paling utama, saya ingin fokus mewujudkan cita-cita saya sejak kecil, yaitu menjadi hafidzoh(*). Saya sangat mensyukuri kegagalan saya yang membukakan mata hati dan pikiran saya yang nyaris digelapkan oleh perkara dunia. Sungguh saya sangat bersyukur.


Inilah kisah dari rantaian kegagalan yang Allah karuniakan kepada saya untuk menjadikan saya pribadi yang lebih baik, muslimah yang lebih patuh pada perintahNya dan hamba yang mensyukuri nikmatNya. Sungguh, saya menulis tulisan ini hanya untuk berbagi bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Allah menciptakan segala sesuatu dengan pasangannya, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hari ini mungkin gagal, esok boleh jadi sukses luar biasa. Semoga Allah senantiasa menjaga niat saya dalam menulis, melindungi saya dari penyakit riya dan sombong yang terkandung dari tulisan ini hingga tulisan ini berada di hadapan pembaca sekalian.

Mohon maaf untuk kalimat yang kurang berkenan. Mohon do’anya agar rencana-rencana saya akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sebuah kesuksesan yang hakiki. Mohon do’anya pula agar saya diberi keikhlasan dan kelapangan hati dalam menerima apapun yang menjadi keputusan Allah sebagai takdir saya. Terima kasih telah membaca tulisan ini hingga akhir. Berharap Allah memberikan kelancaran pada setiap urusan kita, aamiin.


 “You can't have any successes unless you can accept failure.”

 -George Cukor


2 Ramadan 1435H
with love, @nabilawidodo

 (*) The further story will be written soon.

Senin, 26 Mei 2014

SNMPTN

Esok 'kan jadi siang
Lusa 'kan jadi malam
Esok ataupun lusa
Takdir kan terjadi jua

Apapun kabarnya
Jangan kau bangga
Semua karena kuasa-Nya
Jangan kau jumawa
Semua 'kan kembali pada-Nya

Tak perlu sedih
Tak perlu menangis
Cita tak pernah habis
Tak perlu disesali
Dunia tak kau bawa mati

Syukuri
Esok masih ada mentari
Lusa masih ada pelangi
Dan kau tak pernah sendiri





Bogor, 26 May 2014
Nabila

Rabu, 19 Februari 2014

29Feb2014

Maaf kali ini tak ada puisi
Atau sekedar kalimat puitis

Karena setiap kata yang tertulis untukmu
Akan membuat pecah tangisku

Aku tak ingin lagi menangis tersedu untukmu

Karena air mata justru membebankan dirimu
Mungkin hanya do'a yg dapat menghapus rindu

Tak 'kan pernah bosan kuselipkan namamu
Dalam setiap mohonku

Rabb kita pasti memahami pintaku
Malaikat juga tahu aku masih merindukanmu

Akan selalu ada kerinduan yg hadir dalam setiap ingatanku.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak, aamiin.

Dari yang masih merindu Mbah Kung&Mbah Uti,
Kakak Bila.

Kamis, 02 Januari 2014

Perbedaan Sindrom Down, Autis dan Idiot

   Beberapa pekan yang lalu, ketika saya menemani Sabil terapi, ada seorang Ibu yang bertanya "Adiknya sakit apa, mba?". Tanpa rasa malu ataupun minder, saya tersenyum dan menjawab "Down Syndrome, bu". Ibu itu (mungkin) masih asing dengan Sindrom Down dan mencoba menarik kesimpulan sendiri, "Oh, Autis yaa". Sepersekian detik kemudian, secara refleks saya menyangkal kesimpulan beliau, "Down Syndrome berbeda dengan Autis, bu". Kemudian, Ibu itu bertanya lagi, "Apa perbedaannya?". Saya hanya terdiam, mencari jawaban yang pas. Dokter Marina hanya menyampaikan bahwa Down Syndrome berbeda dengan Autis, tapi belum sempat menjelaskan perbedaannya. Beruntung, sebelum saya menjawab, anak ibu tersebut dipanggil masuk ke ruang terapi. Alhamdulillah.

   Setelah kejadian tersebut, saya langsung browsing mengenai perbedaan Down Syndrome, Autis dan Idiot. Banyak sekali artikel yang menjelaskannya. Kini, saya mencoba merangkumnya kembali menjadi sebuah tulisan. Semoga bermanfaat.

   Pada tulisan sebelumnya, saya sudah merangkum beberapa hal mengenai Down Syndrome. Boleh ditengok tulisannya, hehehehehe

   Secara lebih singkat, Down Syndrome adalah seseorang yang lahir dengan kelainan kromosom karena faktor genetika. Ciri-ciri fisiknya pun sangat khas dan terlihat jelas. Mereka memiliki bentuk wajah yang sama. Mata yang sipit, hidung yang mungil, mulut yang kecil dan lidah yang sering menjulur keluar. Biasanya diikuti oleh kelemahan fungsi, kelainan, atau kerusakan organ-organ tubuh lainnya. Kasus yang sering ditemui adalah kelainan jantung.

   Berbeda dengan Autis, yang terlihat seperti anak-anak normal. Sebagian dari mereka ada yang terlahir dengan kemampuan berpikir yang terlalu jenius, sebagian lagi dengan kemampuan berpikir sangat lambat. Ada beberapa jenis Autis, diantaranya adalah hipoaktif atau mereka memiliki "dunia" mereka sendiri. Lebih senang menyendiri dan tidak menyukai keramaian. Atau ada pula yang hiperaktif, tidak bisa diam dan terus bergerak. Namun seiring bertambahnya usia, perilaku-perilaku tersebut dapat berkurang. Telah banyak metode terapi yang bertujuan untuk menyembuhkan Autis. Diantaranya adalah terapi dengan lumba-lumba. Hal ini membuktikan bahwa Autis dapat disembuhkan.

  Adapun Idiot adalah kata yang digunakan untuk orang kekurangan profesional dan tidak berpendidikan. Dulu, ilmu psikologi dan kedokteran menggunakan kata tersebut untuk anak dengan IQ sekitar 20. Namun saat ini, kata Idiot sudah tidak digunakan lagi, baik dalam dunia psikologi ataupun kedokteran.

   Begitulah ringkasan yang dapat saya tulis. Semoga dapat dipahami, yaa. hehehe.

   Mungkin beberapa pembaca bertanya, "Ngapain sih nulis tentang Down Syndrome mulu, bil?". Mungkin juga ada yang berkomentar, "Lebay banget sih, bil. Selain lu, masih banyak yang punya ade DS, tapi gak lebay tuh.".

   InsyaAllah tujuan saya menulis beberapa tulisan mengenai Down Syndrome adalah agar lebih banyak teman-teman pembaca yang dapat melihat lebih luas kebesaran Allah (SWT) yang Maha Agung. Tak sanggup akal pikiran saya membayangkan Maha Kuasa-NYA yang mampu menciptakan makhluk dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing, beserta dengan tujuan penciptaannya.

   Sejak saya mulai mencari tahu sedikit-banyak mengenai DS atau Autis, saya semakin disadarkan Allah untuk senantiasa bersyukur. Bersyukur dengan apapun yang Allah titipkan pada diri saya. Bahkan bersyukur dengan hal-hal kecil yang nyaris lupa saya syukuri sebelumnya, seperti Alhamdulillah jari tangan saya lengkap. Ada ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Dan nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Subhanallah. Allahuakbar! :')

   "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
- (Q.S. Ar-rahman: 13) -

Minggu, 29 Desember 2013

Apa sih "Down Syndrome" itu?

   Melanjutkan tulisan "Idiot Bukan Bahan Candaan", beberapa pembaca mungkin bertanya-tanya mengenai Sindrom Down yang dialami adik bungsu saya. Melalui tulisan ini, saya berusaha menjawab pertanyaan pembaca.

   Down Syndrome merupakan kelainan genetik pada kromosom. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Sindrom ini pertama kali dikenal oleh dr. John Longdon Down pada 1886.

   Alinea sebelumnya adalah pengertian Down Syndrome secara textbook. Untuk lebih jelas mengenai "apa sih Down Syndrome itu?", inilah beberapa ciri khusus mereka;

   Mata sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan, disebut dengan epicental folds. Hidung yang datar menyerupai mongoloid, disebut dengan mongolisme. Mulut mengecil dan lidah yang sering menjulur keluar, disebut macroglossia. Bentuk kepala relatif lebih kecil dengan bagian anteroposterior kepala mendatar, disebut dengan microcephaly. Lapisan kulit yang nampak keriput, disebut dengan dermatologlyphics. Ukuran tangan relatif lebih pendek dengan ruas jari yang lebih buntet, serta jarak yang melebar antar ibu jari dan telunjuk. Mereka pun memiliki keunikan yang paling khas, yaitu Siemens Line atau keunikan garis tangan. Biasanya diikuti dengan kelainan organ-organ tubuh lainnya, seperti -yang sering terjadi- kelainan jantung.  Selain secara fisik, ciri-cirinya juga dapat terlihat secara mental, yaitu kesulitan berkomunikasi.

   Subhanallah. Mereka memiliki banyak keistimewaan, bukan?

   Apakah mereka bisa sembuh?

    Sayangnya, hingga kini, sindrom ini belum bisa disembuhkan secara total. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebutlah mereka harus berjuang menjalani hidup senormal mungkin. Satu-satunya jalan adalah dengan melatih mereka hidup mandiri. Memang tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Caranya? Bisa mengikuti serangakaian terapi rutin di poli tumbuh kembang anak. Alhamdulillah, kini sudah mudah ditemui di beberapa rumah sakit.

   Kalau tidak bisa diobati, bisakah sindrom ini dicegah?

   Tidak, sindrom ini tidak dapat dicegah karena DS merupakan kelainan kromosom yang penyebabnya belum diketahui pasti hingga saat ini. Tapi, sindrom ini dapat diketahui sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui pengambilan air ketuban (amniocentosis) atau analisis kromosom melalui pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada usia kehamilan 10-12 minggu. Terlebih wanita yang hamil pada usia > 40 tahun, sebaiknya melakukan pemeriksaan ini. Mungkin lebih baik jika sebelum menikah melakukan pemeriksaan kesehatan. Perlu diingat, sebesar apapun usaha untuk mencegah sindrom ini atau kelainan genetik lainnya, hanya Allah yang dapat menentukan.

   Jika Allah menitipkan anak, adik, atau kerabat dengan Sindrom Down, jangan malu, apalagi marah. Itu adalah salah satu tanda kasih sayang Allah pada kita. Allah mempercayai kita menjadi orang tua, kakak, atau kerabat yang istimewa.

  Teruntuk pembaca yang memiliki kekerabatan dengan anak-anak DS, satu pesan saya, ingat,

"La tahzan, innallaha maa anna. Jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita."
(Q.S. At-taubah: 40)

Minggu, 08 Desember 2013

Idiot Bukanlah Bahan Candaan

Angin malam membisikkan hasrat untuk menulis.

Belum membahas mengenai perkembangan 29 DAYS TO CHANGE, saat ini saya akan menulis apa yang beberapa waktu terakhir sempat menjadi "sampah" pengganggu pikiran saya.

Saya akan menyampaikan beberapa hal yang (mungkin) bisa lebih melapangkan hati saya.

Pertama, Idiot. Yaa, belakangan saya teman-teman (khususnya laki-laki) hobi menjadikan kata tersebut sebagai bahan ejekan. Sejak pertama mendengar ejekan-ejekan seperti itu, saya langsung memberontak, meskipun tidak berpengaruh dan malah membuat mereka semakin menggila. Saya memberontak atau merasa tidak terima bukan karena gila hormat dan merasa dijatuhkan dengan panggilan tersebut. Sama sekali bukan. Saya memberontak karena saya merasa Idiot bukanlah pilihan kata yang tepat untuk sebuah ejekan -meskipun sebaiknya tidak mengejek-.

Mungkin teman-teman belum sadar kalau ketika bicara "Idiot, lu!", banyak orang yang mendengarnya. Dan tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang memiliki hubungan dengan anak berkebutuhan khusus tersebut turut mendengarnya. Mungkin teman-teman lupa berempati, bagaimana perasaan orang tersebut ketika kata Idiot menjadi bahan ejekan.

"Lebay lu, bil!"

Berlebihan? Sebaiknya anda bercermin terlebih dulu. Entahlah, saya yang terlalu perasa, atau kalian yang memang sudah mati rasa?

Belum banyak yang tahu kalau saya adalah seorang kakak dari "adik istimewa". Yaa, adik bungsu kesanyangan saya adalah seorang balita dengan Down Syndrome. Langit seakan runtuh ketika mengetahui kenyataan tersebut. Walau DS berbeda, pendengaran tetap semakin sensitif pada kata-kata sejenis Autis dan Idiot.

Alhamdulillah, saya dan keluarga dapat dengan mudah menerima Sabil sebagai anugerah yang sangat istimewa dari Allah. Saat ini, kami semakin bangga dan bahagia dengan kehadiran Sabil bersama kami. Sabil telah mengajarkan banyak hal pada kami.

Apakah perlu sebuah tamparan untuk menyadarkan kalian?

Butuh perjuangan lebih bagi anak-anak DS, Autis dan Idiot itu untuk mandiri. Peran orang tua dan keluarga sangatlah penting. Terapi ini-itu di rumah sakit, butuh perhatian dan kesabaran ekstra merawatnya, serta biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Untuk menerima keadaan saja sulit, ditambah harus melakukan hal-hal tersebut. Beruntung bagi anak-anak yang diterima oleh keluarganya, beberapa justru diterlantarkan. Sedangkan mereka pun tidak ada yang memilih terlahir dengan kelainan kromosom, kan? Baik anak-anak khusus atau keluarga atau siapapun yang memiliki hubungan dengan mereka, they have to struggle more than normal people.

Apa kalian masih sanggup menambah beban perasaan mereka dengan menjadikan Idiot atau Autis sebagai bahan ledekan? Masihkah kalian tega menyesakkan dada mereka? Pernahkah kalian terpikir suatu saat mungkin keadaan berubah, hingga kalian menempati posisi mereka? Naudzubillah. Saya berharap kalian tidak perlu mengalaminya dulu untuk merasakannya.

Saya memang masih buruk dalam penyampaian, tapi tolong jangan lihat siapa yang menyampaikan. Fokuslah pada apa yang disampaikannya.

Yuk sama-sama belajar untuk lebih dewasa! Berhenti jadikan Idiot dan Autis sebagai bahan candaan yaa, kawan :)

"Justru mereka yang menjadikan Autis dan Idiot sebagai bahan candaan lah yang memiliki keterbelakangan mental." -Kang Fahmi, 23thn, Animator.

(Bersambung...)

Senin, 21 Oktober 2013

29 DAYS TO CHANGE, Day 01.

21 Oktober 2013. 29 DAYS TO CHANGE, Day 01.

Bismillahirrahmanirrahiim...

29 hari menjelang 19 November 2013 ini saya akan semakin berusaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Be the new of Nabila Amany.

Menurut perhitungan masehi, beberapa hari lagi usia saya menapaki angka 17tahun. Beberapa kalangan menyatakan bahwa usia tersebut adalah usia perbatasan antara remaja ke dewasa. Katanya..

Tidak ingin usia hanya sebatas angka, sedang kedewasaan dan kebaikan diri tidak menyeimbanginya. Nah, saya membuat sebuah visi: PERUBAHAN untuk "dunia baru" saya. Dengan beberapa misi dalam 29 DAYS TO CHANGE.

Sweet seventeen biasanya pesta atau hura-hura. Sorry to say, menurut saya itu agak sia-sia yaa. Hiburan sesaat, minim manfaat. Tapi, inshaaAllah dng 29 DAYS TO CHANGE usia menjadi lebih manfaat. Tidak hanya untuk diri sendiri, pun untuk lingkungan.

Yaa setidaknya baik untuk saya yg sulit melakukan perubahan secara kontinu alias istiqomah. Semoga dng cara ini pribadi saya mengalami "hijrah".

Sebagai salah satu bagian dari usaha saya adalah MEMBATASI KEGIATAN DI SOSIAL MEDIA (twitter, facebook, path, dll).

Aaa "gak update", salah satu hal tersulit bagi saya saat ini hahaha. Tapi inshaaAllah saya bisa.

Kalau mau ngetweet, update status dan/atau share pict jadi bertanya dulu ke diri sendiri, "Apa manfaatnya?". Akhirnya selalu gagal update deh hehe. Sebelum ada 29 DAYS TO CHANGE? Hampir semua yg ada di pikiran langsung di-update ckck.

Btw, Alhamdulillah hari ini ada perubahan. Meski belum banyak. Bukankah hal kecil mengawali hal besar?  ^^

Semoga bisa istiqomah memperbaiki diri untuk selanjutnya, aamiin.

Salam Perubahan,
Yg sedang ingin berubah.